Monday, September 27, 2010

fiat justicia roat coelum-tegakkan hukum meski langit runtuh." lempar batu sekeras-kerasnya sembunyi tangan secepat-cepatnya, bagai membuang air liur tertelan ludah sendiri, bagai mendulang air terpercik muka sendiri, tiada maling yang pernah mengaku kecuali maling teriak maling"...


by Leonard Marpaung on Friday, September 24, 2010 at 6:29pm
Peribahasa "lempar batu sekeras-kerasnya sembunyi tangan secepat-cepatnya, bagai membuang air liur tertelan ludah sendiri, bagai mendulang air terpercik muka sendiri, tiada maling yang pernah mengaku kecuali maling teriak maling"... banyak langgam bahasa yang bisa merepresentasikan fenomena kasus- kasus hukum di Indonesia belakangan ini. Tak salah dulu Machiaveli bernadar bahwa kamu adalah "serigala bagi sesamamu"

Kondisi kronis wajah buram hukum di negeri ini semakin menjadi-jadi, agaknya kita belum sanggup menuntaskan kerisauan dan kegalauan seluruh anak negeri yang sebetulnya sangat sederhana, sekadar cuma mendamba keadilan dan kepastian hukum.

Saat ini kembali digunakan senjata lama "cipta kondisi"  rekayasa aneh bin ajaib untuk kepongahan dan arogansi atas nama hukum dan UU yang sangat miskin pertanggungjawaban akademik dan nilai konseptual-nya sehingga justru telah menikam ke sembilu demokrasi kita yang harus kita akui sangatlah rentan bahkan hukum nyaris bukan lagi berfungsi untuk melindungi tetapi telah berubah garang menjadi senjata ampuh untuk menakut-nakuti siapa saja, pengalihan isu diatas isu-pun kini menjadi trend, org berlomba-lomba dan sibuk dengan pembelaannya sendiri-sendiri tanpa mau tau tegoran dari hati nurani untuk jujur dan adil serta selalu jernih berpandangan bahwa semua orang itu sama di mata hukum (equality before the law)...dapat dibayangkan dengan realitas seperti itu adagium "fiat justicia roat coelum, tegakkan hukum meski langit runtuh" cuma utopis yang menghiasi kamus-kamus hukum kuno.

No comments:

Post a Comment